Kamis, 09 Januari 2020

Watch out my tongue!

Di sebuah grup percakapan suatu game online, sebut saja Game of Sultan, ada seorang user yang saling sahut menyahut dengan user lain dengan topik bahasan Malam Minggu. Setelah lama mengamati percakapan antar user tersebut, salah seorang silent reader user tiba-tiba muncul dengan komentar

"melow amat mbak, keinget mantan (pacar) po?" ketik si silent reader user tersebut.

beberapa saat kemudian mbak user yang dimaksud pun menjawab

"iya dek, jadi inget mantan suamiku" balasnya dilengkapi dengan emoticon berurai airmata.

Selanjutnya, seluruh penghuni grup percakapan tersebut mengetahui jika mbak user baru saja menyelesaikan urusan perceraiannya beberapa waktu lalu.

Jedegg.. jelas saja si silent reader user yang berkomentar nyeleneh tidak masuk akal itu seketika merasa bersalah, tanpa ada maksud mengungkit kesedihan, yang dikira apa yang dikatakannya standar saja, bukan suatu hal yang dapat berdampak sedemikian rupa, ternyata enam kata tersebut dapat menimbulkan gejolak emosi yang sesungguhnya sudah dipendam dan disimpan rapat-rapat.


Masih melalui percakapan daring, seorang perempuan mengetik tanpa pikir panjang dengan narasi kurang lebih seperti ini

"jempolmu segede apasi dari tadi typo teros"

entah dengan narasi seperti apa kala itu lawan obrolannya menjawab, yang pasti beberapa hari kemudian saat mereka saling bertemu, tahulah si perempuan ini bahwa rekannya pernah mengalami cedera di jempolnya.

Hingga yang paling baru, dua orang yang saling berpartner dalam sebuah proyek survei harus berkendara ke desa-desa. Setelah puluhan kilometer ditempuh, si penumpang berkomentar

"Coba puterbaliknya ke kiri napa,"

selanjutnya si penumpang diberitahu temannya bahwa partnernya itu pernah kecelakaan dan kaki kirinya cedera. 

Ya, ketiga cerita itu adalah saya pelakunya. Saya yang berkomentar setelah menelaah fakta, mengolahnya hingga tersintesiskan sebuah hipotesis, yang hanya demi sebuah hasrat untuk membuktikan kebenarannya ternyata dapat menguak luka.

Jika ada yang pernah menonton film berjudul Sherlock Holmes, ada adegan dimana dr. Watson membiarkan tunangannya menampar Holmes karena membicarakan hipotesis berdasarkan fakta yang terlihat, demi mengukuhkan kemampuannya mengobservasi tanpa dibarengi empati.

Benar dalam menebak bukanlah suatu hal yang kini saya sadari tidak untuk dibanggakan jika itu secara tidak langsung menyakitkan, bahkan jika berdasarkan observasi ilmiah sekalipun, jikapun itu adalah suatu bakat atau anugerah satu-satunya yang saya miliki, maka saya harus selalu belajar lagi untuk tidak menebak yang menyakiti, harus selalu lebih berhati-hati dari hari ke hari.
Tidak semua pertanyaan harus dijawab.
Tidak semua pertanyaan harus ditanyakan.
Lebih baik diam dari pada berucap tapi menyakitkan.
Saat saya memiliki dasar argumen, saya masih sangat bisa salah, apalagi saat saya hanya berucap tanpa berpikir? Saat saya hanya berucap untuk membalas? Saat saya hanya berucap untuk memuntahkan amarah? Saat saya berucap untuk sengaja menyakiti? Tentu sakitnya akan terasa lebih menyakitkan lagi bukan? Jika raga mereka yang tersakiti itu baik-baik saja, bagaimana dengan kebatinannya? Mentalnya?

Tapi tentu semua ada balasannya, jika bukan sekarang di dunia, mungkin saya akan menerima balasannya nanti di dunia lain.

Sunyi lebih nyaman dari riuh yang menyakitkan, (gambar dari sini)

Saya mendapatkan balasan dari kelakuan saya selama ini yang sering tidak peka dan meninggalkan empati di sembarang tempat.

Ada seorang teman yang mulutnya ceplas-ceplos mengejudge saya 

"Gila, halu itu mah, aneh kamu jomblo, mau sok-sokan kenal ibuknya, bukannya kenal anaknya dulu"

Dia bilang saya halu, gila dan aneh.

Bukan itu yang jadi masalah. Sebaliknya, saya menganggap dia orang yang saya sayang, yang saya ingin dia tidak salah mengenali saya, saya akan sedih jika dia menyesal. Maka dengan berurai airmata saya membalas ucapannya kurang lebih seperti ini

"Kamu perlu tau, sejak umur 11 tahun ibuku meninggal dunia. Kamu tentu tidak mengerti apa yang aku hadapi dan aku lalui hingga aku sebesar sekarang, tapi yang belum aku ceritakan padamu adalah ada bagian dalam diriku yang ketakutan, takut jika tidak punya ibu adalah suatu kekurangan yang tidak bisa ditutupi, takut jika tumbuh besar tanpa ibu akan menjadi permasalahan lain dikemudian hari, takut jika bagaimana cara aku menjadi dewasa tanpa ibu adalah beban bagi orang yang aku sayangi, itulah kenapa, kenapa daripada mendekati anaknya aku lebih ingin dekat dengan ibunya, anggap saja aku butuh dimatrikulasi, mengejar ketertinggalanku dari perempuan-perempuan di luar sana yang sama-sama menyukai putranya."

Kala itu saya merasakan, apa yang orang-orang lain rasakan, saat mereka harus menjawab pertanyaan dengan membuka luka dan rasa takut, demi menghindari kesalahpahaman, demi tidak disalahpahami, demi menjaga hati agar tidak sakit lagi.

Selanjutnya, saya selalu berusaha mengingat untuk berhati-hati, tidak menanyakan yang tidak perlu ditanyakan untuk sekedar basa-basi atau mencairkan suasana, karena hal-hal seperti ini tidak bisa dihindari, sangat mungkin akan ada hati yang tersayat untuk mendengarnya, apalagi menjawabnya.

Pertanyaan-pertanyaan yang tidak untuk dijadikan basa-basi:

  1. Gendutan ya sekarang? (Gak pengen diet?) . Mungkin saja dia sedang stress, sedih, atau sedang dalam pengobatan, siapa yang tau?
  2. Item banget, kucel, (gak pernah ngerawat diri ya?) . Mungkin saja entah dia kerja apasaja di luar sana demi menyambung hidupnya, siapa yang tau?
  3. Kapan Nikah? Udah hamil? . Terus kalau dijawab, Anda dapat apa? Siapa yang gak pengen nikah? Siapa yang nikah pengen nggak punya anak?
  4. Kapan lulus? . Siapa yang capek sekolah mahal nggak mau lulus? 
  5. Main teros.... mungkin dia sedih terus tapi Anda cuma komentar.
  6. Ambis amat, cari uang terus... daripada cari masalah bro, siapa tau uang dicari untuk apa sepenting apa segenting apa Anda Tidak Mengerti.
  7. Sibuk apa sekarang? ..... Anda tidak pahamkah betapa sedihnya ditanya sibuk apa saat saya sedang menganggur?
Dan pertanyaan-pertanyaan sejenis yang lainnya....
Daripada mengajukan pertanyaan jahat, lebih baik saling mendoakan dalam kebaikan dan meluangkan waktu untuk berinteraksi lebih dalam dari hati ke hati. Lebih konkret.
Tampaknya Tuhan menciptakan bibir ini tidak hanya untuk berlisan saja, melainkan untuk menjaganya dan berlisan yang baik-baik.

Sekian cerita dari diri saya sendiri untuk saya, diri sendiri. Jika dapat dipetik hikmah maka silahkan dipetik. Jika tidak bisa maka lupakan saja tulisan ini. Jangan diingat-ingat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Populer